Sabtu, 01 Agustus 2020

Tentang Taqwa


DALAM
satu riwayat disebutkan bahwa Umar bin al-Khaththab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab mengenai taqwa. Namun Ubay balik bertanya, "Tidak pernahkah Anda melewati satu jalan yang penuh dengan duri?" Umar menjawab, "Ya, aku pernah".  Tanya Ubay lagi, "Apa yang Anda lakukan?" Umar menjawab, "Saya waspada dan bersungguh-sungguh". Lalu, kata Ubay bin Ka’ab, "Itulah taqwa.” (dalam Ibnu Katsir).

Jika taqwa ini dikaitkan dengan Allah, maka ia bermakna: waspada dan bersungguh-sunggguh dalam menghindari dari apa-apa yang merusak atau membahayakan perjalanan menuju/ mendekat kepada Allah. Itulah cara memelihara hubungan baik dengan Allah, yaitu memelihara diri jangan sampai terperosok pada perbuatan yang tidak di-ridla-i oleh Allah.

Sehingga dalam taqwa itu dapat terkandung rasa takut atau berani, malu atau percaya diri, menjaga harga diri atau rendah hati, cinta atau benci, yang semua itu adalah karena Allah. 

Sikap-sikap yang tersebut semua itu dalam hasanah keilmuan Islam disebut dengan adab. Adab ini lahir karena pengenalan yang baik terhadap Allah (ma’rifatullah).  Selanjutnya, dari penerapan adab yang baik ini akan lahir akhlak yang baik. Jadi urutannya: Pengenalan –> adab –> akhlak.

Taqwa berhubungan dengan berkaitan dengan komitmen dan doa kita:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ  

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.  Tunjukilah kami jalan yang lurus.  (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Qs. al-Fatihah/1 : 5-7).

Sebaik-baik bekal dalam menempuh shirathal mustaqim yang merupakan  perjalanan kembali menuju Allah (sebagaimana dicerminkan dalam perjalanan ber-haji) adalah taqwa.

ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ  

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Qs. al-Baqarah/2 : 197).

Yang termasuk ayat-ayat awal yang mengandung kata taqwa misalnya:

أَوۡ أَمَرَ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ
Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? (Qs.al-‘Alaq/96: 12)

وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا  

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Qs.asy-Syam/91: 7-10)

Ayat-ayat al-Qur’an tidak menjelaskan makna taqwa, namun lebih menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang bertaqwa. Dan al-Quran merupakan hudan bagi orang yang bertaqwa.

الٓمٓ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  

Alif laam miim.  Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.  (yaitu) Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Qs. al-Baqarah/2 : 1-5)

Taqwa memang menyangkut hubungan manusia dengan Allah, namun implikasi taqwa bersifat kemanusiaan. Orang bertaqwa pasti bersikap adil, dan melakukan al-birr (kebajikan), misalnya. 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ  

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. al-Maidah/5 : 8)

۞لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ  

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Qs. al-Baqarah/2 : 177)

Karena itu, orang yang paling mulia dalam hubungan kemanusiaan adalah dia yang paling ber-taqwa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. al-Hujurat/49 : 13)

Dengan demikian, taqwa adalah sikap mengabdi kepada Allah yang paling murni (ikhlas). Semua sikapnya adalah demi/karena Allah semata. Hanya dengan mengabdi kepada Allah, manusia akan terbebaskan dari perbudakan kepada makhluk. Hamba yang seperti inilah yang layak untuk mewarisi bumi Allah. 

قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ  

Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; Dia mewariskan kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa". (Qs. al-‘Araf/7: 128)

Taqwa dari kata waqa-yaqii-wiqaayatan. Maknanya adalah al-himaayatu ‘penjagaan’. Dan al-taqwa menurut lughat adalah qillatul kalaam ‘sedikit bicara’. Demikian menurut Ibnu Faris. 

(Artikel berseri Panduan Berislam ini adalah Bab Pertama pada Bidang Dimensi Spiritual-Keagamaan, disusun oleh Ketua Posdai Ust Ahmad Suhail)

Tags :

bm
Posdai News

Redaksi

Connect