Senin, 03 Agustus 2020

Tentang Ad-Din


AL-DIN
adalah mashdar dari kata kerja dana - yadinu yang memiliki banyak arti. Namun, kebanyakan arti al-din dalam al-Qur’an adalah pembalasan, perhitungan, ketaatan dan syariah.  Dalam hadis atau atsar al-din bisa bermakna nasihat, perhitungan, budi pekerti luhur, bermasyarakat (mu’amalah) dan undang-undang.

Ayat-ayat yang pertama turun dan mengandung kata al-din diantaranya adalah:

وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ

Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan (Qs. al-Muddatstsir/74 : 46)

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu din-mu, dan untukkulah, din-ku" (Qs.al-Kafirun/109 : 1-6)

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ  

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan ad-din ?  Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.  Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.   (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna (Qs. al-Ma’un/107 :1-7)

وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينٗا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا  

Dan siapakah yang lebih baik din-nya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya  (Qs. an-Nisa/4 : 125)

Dari ayat-ayat di atas kita lihat bahwa ad-din itu berkaitan dengan akhirat, hubungan dengan Allah, dan hubungan dengan manusia, serta mengikuti millah Ibrahim yang hanif. Itulah ad-din al-qayyim, din yang lurus. 

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ  

Maka hadapkanlah wajahmu kepada ad-din dengan hanif; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) din yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Qs, ar-Rum/30 :30)

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ  

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) ad-din dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah din yang lurus (Qs.al-Bayyinah/98 : 5)

Ad-din juga bermakna ‘berhutang’. Manusia berhutang janji primordial, wujud dan pemberian kepada Allah. Satu-satunya jalan melunasi hutang itu adalah dengan kembali kepada-Nya, berserah diri kepada-Nya. 

Karena itu ad-din juga bermakna ‘kembali’. Seperti kembalinya air hujan ke langit. Penyerahan diri kepada selain Allah atau penolakan terhadap ad-din al-qayyim ini akan membuat manusia yang berderajat terbaik jatuh ke derajat yang terendah. 

وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيۡتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ  

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.  Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan ad-din sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?  Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (Qs. at-Tin/95 : 1-8)

Ayat-ayat akhir yang mengandung ad-din adalah:

إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا  

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.Dan kamu lihat manusia masuk din Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat (Qs. an-Nashr/110 : 1-3)

Surah ini turun menjelang Fath Makkah. Surah ini merupakan informasi dari Allah bahwa kaum Muslim akhirnya akan berhasil membebaskan kota Makkah. Satu dasawarsa sebelumnya, hal ini telah diisyaratkan Allah, ketika menyuruh Nabi saw berdoa:

وَقُل رَّبِّ أَدۡخِلۡنِي مُدۡخَلَ صِدۡقٖ وَأَخۡرِجۡنِي مُخۡرَجَ صِدۡقٖ وَٱجۡعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلۡطَٰنٗا نَّصِيرٗا وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا  

Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.  Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (Qs. al-Isra’/17 : 80-81)

Dan ayat terakhir yang turun yang mengandung kata ad-din adalah:

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلۡمُنۡخَنِقَةُ وَٱلۡمَوۡقُوذَةُ وَٱلۡمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ  

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa dari (mengalahkan) din mu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu din-mu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai din bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs.al-Maidah/5 : 3)


Ayat ini turun saat Haji Wada’, setelah Fath Makkah. Kira-kira 83 hari setelah itu, Rasulullah saw meninggal dunia di Madinah. Ad-din itu kini telah sempurna dan ada contoh aplikasinya, yaitu Madinah al-Munawwarah. Ad-din itu dinamai oleh Allah ‘Islam’, satu-satunya ad-din yang diridhai oleh-Nya.

Note:

Imam al-Jurjani dalam kitabnya, Kitab at-Ta’riifaat menyebutkan perbedaan antara millah dan ad-diin. Keduanya memiliki arti yang sama, namun beda penjelasan. Bahwasannya ketika syariat ditaati, maka ia disebut ad-diin. Dan ketika syariat terkumpul dinamakan millah. Dan ketika syariat dikembalikan kepadanya maka dinamakan madzhab. Ad-ddin disandarkan kepada Allah, millah disandarkan kepada rasul, madzhab disandarkan kepada mujtahid.

(Artikel berseri Panduan Berislam ini adalah Bagian Pertama pada Bab Dimensi Spiritual-Keagamaan, disusun oleh Ketua Posdai Ust Ahmad Suhail)

Tags :

bm
Posdai News

Redaksi

Connect