Carousel

Senin, 05 April 2021

Keharuan Dai Mengabdi Asal Jayapura, Kuatkan Dakwah Untuk Negeri


DEPOK - Namanya Ustadz Indra Rizki. Dai yang mengabdi di Jayapura, Provinsi Papua, ini mengaku merasakan keharuan yang mendalam ketika menerima sertifikat usai mengikuti Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) yang diselenggarakan selama 3 hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dan ditutup pada Ahad (4/4/2021). 

"Yang terbayang dalam benak setelah menerima sertifikat yang diberikan langsung oleh Ketua Umum Ustadz Nashirul Haq adalah beratnya tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan di daerah," kata Ustadz Indra Rizki. 

Seperti diketahui, Jayapura dan kawasan pedalaman di dalamnya merupakan medan dakwah yang tidak ringan. Butuh kesabaran dan modal kecakapan sosial, selain modal keberanian, untuk bisa diterima. 

Karena itu, bagi Indra, acara seperti daurah Grand MBA ini merupakan kegiatan yang amat penting untuk membekali diri untuk selanjutnya diterapkan di daerah dan titik binaan. 

Ia menyatakan rasa senang dan syukur telah mengikuti kegiatan daurah ini. Ia bahkan merasa waktu 3 hari rasanya belum cukup memenuhi dahaga sebagai bekal spirit dakwah di daerah.  


"Sebenarnya kami merasa daurah sangat singkat, ilmu yang kami dapatkanpun serasa belum cukup. Namun di waktu yang sama tuntutan dakwah di lapangan juga menanti kita," katanya.

Selain itu, Indra juga merasakan kedalaman rasa ikatan jamaah dan ukhuwah untuk bersama saling menguatkan memikul amanah dakwah yang tidak ringan ini. 

"Kami hanya sedikit sekali mengenal saudara kami yang di Depok dan daerah lain tapi saat kami bertemu seakan telah lama kita saling mengenal. Belajar dan beribadah menambah spirit agar kami tetap teguh meniti jalan dakwah ini," katanya. 

Indra berharap dan berdoa mudah-mudahan seluruh peserta diberikan kekuatan dan pertolongan agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan profesional.

Ia juga menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah turut terlibat dalam mendukung dan menguatkan gerakan dakwah untuk membangun peradaban yang bermartabat serta menguatkan sendi sendi kehidupan dalam masyarakat dan berbangsa.

Minggu, 04 April 2021

38 Dai Alumni Daurah Musyrif Grand MBA Posdai Siap Mengabdi


DEPOK - Sebanyak 38 alumni Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) siap kembali mengabdi tandang ke gelanggang. 

Ketua Panitia Daurah Musyrif Grand MBA, Ust Ma’rifatullah, mengatakan peserta daurah ini merupakan perwakilan dai berbagai daerah di Indonesia dari ujung Sumatera hingga Papua.

"Alhamdulillah, selepas acara ini, sahabat sahabat dai ini siap siap akan kembali lagi ke tempat tugas mereka masing-masing. Membina dan mendampingi umat di daerah dan di tempat tempat yang jauh," kata Ma'rifatullah. 

Dia menjelaskan, kegiatan daurah ini merupakan amanat dari Rakernas Hidayatullah 2021 lalu dalam rangka memberikan arah lebih jelas untuk pengembangan mainstream lebih maksimal.

Daurah ini selain untuk meningkatkan standar komitmen dan kompetensi yang dimiliki, juga sebagai sarana pembelajaran efektif sekaligus berfungsi untuk memberikan solusi pada salah satu problem utama dai di lapangan, yakni meningkatkan kemampuan manajerial untuk pengembangan Majelis Qur’an dan Rumah Qur’an di wilayahnya masing-masing.

Daurah ini juga bertujuan menyiapkan muallim Grand MBA menjadi Musyrif di wilayahnya masing-masing dengan memahamkan mereka akan tugas pokok dan fungsi masing-masing. 

"Semoga selama tiga hari mengikuti kegiatan ini secara intensif, diharapkan peserta kembali dengan semangat baru dan bekal praktis yang lebih baik lagi," kata Ma'rifatullah menukaskan. 

Salah seorang peserta, Ust Indra Rizki asal Jayapura, Papua, menyatakan rasa senang dan syukur telah mengikuti kegiatan daurah ini. Ia bahkan merasa waktu 3 hari rasanya belum cukup memenuhi dahaga sebagai bekal spirit dakwah di daerah.  

"Sebenarnya kami merasa daurah sangat singkat, ilmu yang kami dapatkanpun serasa belum cukup. Namun di waktu yang sama tuntutan dakwah di lapangan juga menanti kita," katanya.

Dia pun merasa terbayang dalam benaknya setelah menerima sertifikat mengenai beratnya tugas dan tanggung jawab dakwah yang harus dipikul laksanakan di daerah. 

Para peserta nantinya akan dilibatkan dalam pengembangan Majlis Qur’an dan Rumah Qur’an Hidayatullah serta pelibatan para musyrif dalam pengembangan kurikulum Grand MBA.

Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an yang digelar selama tiga hari ini mengangkat tema “Solidkan Langkah, Kuatkan Ukhuwwah Bersama Qur’an Meraih Berkah”.

Daurah ini mensyaratkan pengalaman sebagai muallim minimal 1 tahun, lulus marhalah ula, kompeten dalam bahasa Arab, tajwid, ulumul Qur’an, Ilmu Tafsir, hafalal-Qur’an minimal 5 juz dan memahami matan al-Muqaddimah al-Jazariyyah. (ybh/hio)

KH Dr Nashirul Haq Tutup Daurah Musyrif Grand MBA Posdai


DEPOK - Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, MA, menutup secara resmi gelaran Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA), Ahad (4/4/2021).

Pendidikan dan latihan selama 3 hari yang mengangkat tema “Standarisasi Musyrif Majelis Qur’an & Rumah Qur’an Hidayatullah Dalam Gerakan Dakwah Mengajar Belajar Al Qur’an” ini dihadiri oleh 40 peserta perwakilan daerah dari seluruh Indonesia. 

KH Dr Nashirul Haq dalam sambutannya menutup acara ini mendorong alumni Daurah Musyrif Grand MBA yang digelar Posdai ini untuk memaksimalkan segenap sumber daya dimiliki untuk dakwah dan tarbiyah umat. 


"Maka dengan demikian, tidak ada satupun dai kader yang lepas dari tugas dakwah. Tidak ada satupun dai Hidayatullah yang tidak mengemban tugas dakwah, itulah makanya ada dakwah fardiyah,” imbuhnya.

Beliau pun menyampaikan nasehat agar tetap menjadi dai pembelajar. Artinya, tidak lekas berpuas diri atas apa yang sudah didapatkan dari kegiatan selama 3 hari ini. 

Ia lantas mendorong kepada kader dai untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri dengan belajar dan mengajar Al Qur’an. 

Kegiatan daurah ini menurutnya merupakan bagian dari upaya untuk mengantar kader menjadi dai Al Qur’an sehingga jangan sampai diantara kader ada yang minder.

“Bacaan Qur’an saja masih standar, apalagi mau bersanad. Karena itu harus belajar. Itulah sebabnya Grand MBA itu adalah gerakan dakwah mengajar dan belajar Al Qur’an. Habis mengajar, belajar!,” kata beliau memungkasi. (ybh/hio)

Sabtu, 03 April 2021

Posdai Distribusikan Kitab Penunjang Kiprah Dai Mengabdi


JAKARTA - Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) terus berupaya menguatkan kiprah dai yang mengabdi berbagai titik di penjuru negeri. Kali ini dengan kebaikan dari penerbit Pustaka Imam Syafii, Posdai akan mendistribusikan kitab-kitab untuk menunjang dakwah para dai. 

Pengurus Posdai Pusat, Ust Abdul Muin Muskil, mengatakan untuk tahap awal rencana penyaluran kitab kitab ini akan menyasar ke 29 daerah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air ini.

Diantaranya, dia menyebutkan, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan beberapa wilayah lainnya.

"Utamanya kami memprioritaskan pendistribusian kepada tenaga dai yang bertugas di kawasan terpencil dan pedalaman yang memang minim akses informasi," kata Abdul di Jakata, Sabtu (3/4/2021). 

Abdul menjelaskan, kendatipun di masa sekarang ini sumber bacaan dan literasi dapat diakses melalui perangkat pintar seperti dekstop dan smartphone, namun kondisi ini tak berlaku bagi dai di pedalaman yang akses internetnya terbatas. 

"Jangankan jaringan internet 4G, sinyal CDMA saja masih  hilang muncul. Seperti sering dialami dai kita di pedalaman atau kawasan suku terasing," kata Abdul. 



Dia menambahkan, dengan adanya pasokan buku ini, diharapkan akan semakin menunjang kiprah dai di daerah terutama dalam pemenuhan kebutuhan kitab sebagai sumber literatur pembelajaran yang memadai. 

Kata Abdul, pada penyaluran kali ini pihaknya menargetkan bisa memenuhi kebutuhan seluruh cabang-cabang Posdai yang berjumlah 30 wilayah. Selain itu, juga mengalokasikan sebagian lainnya kepada 29 alumni Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas yang akan lulus dan mendapatkan SK Penugasan pada Ramadhan 1442.

"Kami berharap dengan adanya bantuan kitab-kitab ini khazanah keilmuan dari seluruh dai dan calon kader dai bisa bertambah. Dengan demikian, ilmu yang disampaikan kepada masyarakat binaannya pun makin banyak dan keberkahan bagi donatur yang telah mendukung," tukasnya. 

Abdul mewakili Posdai menyampaikan ucapan terimakasih kepada Pustaka Imam Syafii atas sinergi kebajikan ini dan mendoakan penerbit yang memiliki tagline "Penerbit Penebar Sunnah" ini diberikan keberkahan. 

Seperti diketahui, Pustakan Imam Syafii merupakan salah satu penerbit buku dengan berbagai topik keislaman yang masih terus eksis. Banyak diminati karena konsistensinya dalam menerbitkan buku yang berlisensi langsung dari penulisnya dan termasuk percetakan yang paling banyak dinanti keluaran buku terbarunya.

f

Cetak Muallim, Posdai Gelar Daurah Musyrif Grand MBA


DEPOK — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) yang berada dibawah Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatulllah menggelar Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) selama 3 hari.

Acara dibuka oleh Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah KH Dr Abdul Mannan berbarengan dengan Mabit Silaturrahim & Tarhib Ramadhan di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, pada Jum’at malam (2/4/2021).

Dr Abdul Mannan dalam sambutannya mendorong revitalisasi gerakan pemberantasan buta huruf Al Qur’an. Menurutnya, Al Qur’an sebagai mukjizat akhir zaman, gerakan ini mestinya tidak saja menyasar masyarakat bawah, melainkan juga kalangan menengah ke atas.

Karena itu, menurutnya, Grand MBA juga perlu meningkatkan jangkauan bidikannya hingga ke level komunitas masyarakat menengah ke atas. Sebab, lanjut dia, nyatanya tidak sedikit orang pintar dan berkecukupan namun belum bisa mengaji.

“Jadi tidak saja mengajarkan Al Qur’an sampai masuk ke gang gang sempit, tapi juga harus peduli dengan saudara saudara kita lainnya yang level keberadaannya menengah ke atas namun masih belum bisa baca Qur’an,” katanya berpesan.

Ia pun berpesan kepada para muallim Al Qur’an agar tak perlu risau dengan ketiadaan sumber daya materi untuk menunjang Grand MBA. Karena, terang dia meyakinkan, siapa yang mengurus dan menyibuki Al Qur’an pasti “berkecukupan”.

“Buktinya, banyak penjaga Al Qur’an yang gajinya lebih tinggi dari PNS bahkan mengalahkan gaji presiden,” katanya setengah berkelakar.

Dengan gaya khasnya yang lantang dan berapi-api, beliau berharap kegiatan daurah ini menghasilkan output siap tandang ke gelanggang mensyiarkan Al Qur’an dalam rangka memperkokoh sendi sendi kehidupan dalam masyarakat dan berbangsa.

Tak usah risau, kata dia, karena Al Qur’an pasti berbuah kebaikan dan keberkahan kepada siapapun yang sungguh sungguh mendakwahkannya. Bahkan, dia menamsilkan, sekiranya ada 2 pengamen yang diantaranya membacakan Al Qur’an dan lainnya menyanyi lagu bebas, maka orang akan lebih memilih berderma kepada yang mengaji.

“Saya mau tanya, adakah orang yang mengurus Al Quran mati kelaparan, buktikan secara empirik. Tidak ada. Itu karena orang yang ber-Qur’an punya pendirian dan memiliki kedirian yang jelas,” pungkasnya.

Sementara itu, Koordinator Pusat Grand MBA Ust Agung Tranajaya, Lc, M.Si, mengatakan kegiatan daurah ini merupakan amanat dari Rakernas Hidayatullah 2021 lalu dalam rangka memberikan arah lebih jelas untuk pengembangan mainstream lebih maksimal.

Kata Agung, dakwah sebagai salah satu mainstream gerakan, Hidayatullah dituntut untuk terus berbenah tak terkecuali Grand MBA sebagai cikal bakal Lembaga Lajnah Al-Qur’an Hidayatullah Pusat.

“Gerakan ini terus memacu diri untuk mengembangkan manajemen dan sumber daya insani lebih terencana, lebih teradministrasi, lebih unggul dan lebih memiliki respon terhadap kebutuhan jaringan struktural organisasi,” kata Agung menjelaskan latar belakang kegiatan ini.

Daurah ini, lanjut dia, selain untuk meningkatkan standar komitmen dan kompetensi yang dimiliki, daurah musyrif ini juga sebagai sarana pemebelajaran efektif sekaligus berfungsi untuk memberikan solusi pada salah satu problem utama dai di lapangan, yakni meningkatkan kemampuan manajerial untuk pengembangan Majelis Qur’an dan Rumah Qur’an di wilayahnya masing-masing.

Selain itu, Agung mengimbuhkan, daurah ini juga bertujuan menyiapkan muallim Grand MBA menjadi Musyrif di wilayahnya masing-masing dengan memahamkan mereka akan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Para peserta nantinya akan dilibatkan dalam pengembangan Majlis Qur’an dan Rumah Qur’an Hidayatullah serta pelibatan para musyrif dalam pengembangan kurikulum Grand MBA.

Daurah Musyrif Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an yang digelar selama tiga hari ini mengangkat tema “Solidkan Langkah, Kuatkan Ukhuwwah Bersama Qur’an Meraih Berkah”.

Daurah ini mensyaratkan pengalaman sebagai muallim minimal 1 tahun, lulus marhalah ula, kompeten dalam bahasa Arab, tajwid, ulumul Qur’an, Ilmu Tafsir, hafalal-Qur’an minimal 5 juz dan memahami matan al-Muqaddimah al-Jazariyyah. (ybh/hio)

Senin, 05 Oktober 2020

Posdai Salurkan Sembako untuk Guru Ngaji di Sambelia NTB


MATARAM -- Pos Dai sebagai lembaga yang fokus membantu para dai dalam berdakwah terus memberikan layanan terbaik bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah. 

Seperti yang dilakukan oleh Ustadz Muhajirin yang kini telah setahun bertugas di Pesantren Masyarakat Hidayatullah Lombok Timur, tepatnya di Desa Padaksiar, Sambelia. 

Dalam menjalani tugas dakwah, Ustadz Muhajirin bersama istri dan satu anaknya rela tinggal di sebuah gubuk di tengah area terbuka. "Ini tugas dakwah, dikasih tempat ini, Alhamdulillah," ucapnya dengan tersenyum.

Dalam kesempatan awal Oktober 2020 Pos Dai NTB memberikan bantuan sembako untuk Ustadz Muhajirin yang juga seorang hafidz Quran 30 juz.

"Kami melihat sangat luar biasa dedikasi Ustadz Muhajirin dalam dakwah melalui Pesantren Masyarakat Hidayatullah Lombok Timur ini. Gubuk yang ditempati tak membuatnya ciut nyali justru sangat tertantang bagaimana pesantren yang dirintisnya dapat segera bermanfaat luas bagi umat," terang Ketua Pos Dai NTB Ustadz H. Samsul Hakim kala berkunjung ke lokasi Pesantren Masyarakat Hidayatullah Lombok Timur, Jumat  (2/10).

Ia menambahkan, "Insya Allah selain bantuan rutin seperti ini, Pos Dai sangat ingin membangunkan tempat tinggal yang lebih layak untuk Ustadz Muhajirin." 

Minggu, 04 Oktober 2020

Ust Hamim Thohari: Dakwah Sukses Bila Berhasil Melahirkan Dai


JAKARTA - Dai senior yang juga anggota Dewan Penasehat Pimpinan Umum (DPPU) Hidayatullah Ust H Hamim Thohari mengatakan dakwah baru dapat dikatakan sukses apabila berhasil menghantarkan seseorang atau objek dakwah menjadi dai yang terlibat dalam dakwah. 

Dia mengungkapkan, dakwah yang sukses adalah dakwah yang mengantarkan orang akhirnya menjadi dai. 

"Dakwah manhaji adalah dakwah yang mengajak semua untuk menjadi pelaku, ini yang utama," cetusnya saat menjadi narasumber dalam Webinar Series 06 – Pra Munas V Hidayatullah seperti dilansir kanal Youtube Hidayatullah ID, Sabtu (3/10/2020)

Dia pun menyerukan agar umat Islam untuk selalu bersatu, membangun sinergi dan menghindari perpecahan. Menurutnya, semangat persatuan merupakan spirit dakwah manhaji. 

"Dakwah manhaji adalah dakwah yang bisa membangun kebersamaan. Dakwah yang melibatkan bukan saja orang tertentu tapi semua umat Islam adalah dai," katanya .

Sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah, lanjut dia, dakwah manhaji adalah gerakan dalam rangka mengaktifkan semua potensi yang ada. 

"Para sahabat sahabat Nabi itu tidak ada yang menjadi objek dakwah, mereka semua adalah subjek dakwah," imbuhnya. 

Hamim berharap semoga kebersamaan gerakan dan ormas Islam lebih langgeng dan hakiki. Hal itu kata dia semua bisa tercapai jika antar kita dan antar golongan kita tidak saling sombong, membanggakan diri, merasa paling hebat, paling bersih dan paling suci. 

"Ketika ta'liful qulub (kesatuan hati) terjadi, maka inilah pesaudaraan kita sesungguhnya," ungkapnya. 

Lebih jauh dia menerangkan, dakwah manhaji adalah dakwah yang tersistem yang mengajak orang kepada Allah, mengajak kepada kebenaran dan kebaikan. Ia juga memuat ajakan agar manusia memiliki visi yang benar dalam hidup ini. 

Hamim menegaskan, dakwah haruslah merangkul agar umat ini berjamaah, tidak bercerai berai dan tidak sendiri sendiri. 

"Dakwah kita tidak sekedar bagaimana melayani permintaan, tetapi dakwah yang ter-manage dengan baik bagaimana kita menyatukan umat. Menjauhkan diri dari hal yang menjadikan kita terkotak kotak," katanya. 

Hamim menggambarkan dakwah seperti lautan biru. Dakwah kita ini seperti lautan biru yang terhampar luas sekali. Dia bertamsil, di udara barangkali sangat jarang didapati pernah ada tabrakan pesawat. Pernah, tapi itu sangat jarang terjadi. 

"Nah, karena dakwah kita ini luas sekali maka mestinya kita tidak perlu tabrakan apalagi perebutan jamaah. Sesuatu yang sesungguhnya sangat sangat tidak indah sama sekali. Begitu luasnya dakwah kita, apalagi tema tema yang ambil adalah tema besar seperti persoalan keummatan, kabangsaan, ekonomi, pendidikan dan kekinian yang itu tidak ada habis habisnya. 

"Itu semua, tidak bisa tidak, mengharuskan kita untuk saling bersinergi," pungkasnya. 

Webinar bertajuk “Dakwah Manhaji: Mengajak, Membela, Dan Bersama Umat Membangun Jamaah" ini juga menghadirkan narasumber Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia yang juga Ketua Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Prof Dr KH Didin Hafidhuddin dan dipandu oleh Pimpinan Pesantren Tahfidz Qur'an Putra Al Kautsar Cibinong Ust Munawwir Baddu.

Connect